Harta Dzahir & Harta Bathin, Apa Itu?

Selasa, 21 Mei 2019
Harta Dzahir & Harta Bathin, Apa Itu? - inilah ramadhan

ISTILAH harta dzahir dan harta bathin tidak kita jumpai dalam dalil al-Quran dan sunah. Tidak pula dalam penjelasan para sahabat. Hanya saja para ulama sepakat mengenai pembagian ini. (Penjelasan dalam keputusan Baituz Zakat, untuk pertemuan ke-5, hlm. 505). Kita bisa jumpai penggunaan istilah ini dalam buku-buku para ulama fikih. Mereka membagi harta zakat menjadi 2, harta dzahir dan harta bathin.

Kita simak penjelasan al-Qadhi Abu Yala ulama Hambali ,

Al-Qodhi Abu Yala menjelaskan pembagian harta dzahir dan bathin itu dan beliau juga sebutkan contohnya,

: . : : .: :

Harta yang dizakati ada 2 bentuk: dzahir dan bathin. Harta dzahir adalah harta yang tidak mungkin disembunyikan, seperti hasil tanaman, buah-buahan, dan binatang ternak. Dan harta bathin adalah harta yang mungkin untuk disembunyikan, seperti emas, perak dan harta perdagangan.

Kemudian al-Qadhi menjelaskan pembagian ini kaitannya dengan tugas amil,



Amil zakat tidak memiliki wewenang untuk menaksir zakat harta bathin. Pemiliknya yang paling berhak untuk menunaikan zakat harta bathin, kecuali jika dia serahkan harta itu atas kerelaannya, lalu amil menerimanya dari mereka, sehingga status amil membagikan zakat hanya membantu mereka. Amil hanya berwenang menaksir harta dzahir. Dia boleh perintahkan pemilik harta untuk menyerahkan zakat hartanya kepadanya ketika amil minta. Jika tidak diminta amil, muzakki boleh menyerahkannya ke amil. (al-Ahkam as-Sulthaniyah, hlm. 180)

Penjelasan lain disampaikan oleh an-Nawawi ulama Syafiiyah dalam Ianatut Thalibin,



Amil dilarang untuk meng-audit harta bathin, yaitu mata uang dan barang dagangan, bukan harta dzahir, seperti hewan ternak, hasil pertanian dan buah-buahan. (Ianatut Thalibin, 2/175).

Juga disampaikan al-Kasani ulama Hanafi dalam kitabnya, BadaI as-ShanaI,



Harta zakat ada 2, harta dzahir seperti hewan ternak dan harta yang dilaporkan pedagang kepada petugas penarik pajak. Dan harta bathin, seperti emas, perak, dan harta perdagangan yang tidak nampak di tempat perdagangnya. (Badai as-Shanai, 2/35).

Syaikh Abu Zahrah ulama kontemporer menjelaskan,



Harta yang dikumpulkan Utsman radhiyallahu anhu diantaranya harta zakat. Dan ada yang disebut harta dzahir dan ada harta bathin (at-Taujih at-Tasyrii, Muhammad Baithar, 2/149).

Dan dari batasan yang disampaikan para ulama di atas, kita bisa simpulkan bahwa inti dari harta dzahir adalah harta yang tidak mungkin bisa disembunyikan, sehingga bisa diketahui orang lain. Mengenai rinciannya, mereka berbeda-beda dalam menyebutkannya.

Pertanyaannya, apakah harta perdagangan termasuk?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Beberapa keterangan di atas memasukkan harta perdagangan bagian dari harta bathin. Karena tidak diketahui orang lain. Dan itulah pendapat jumhur ulama. Meskipun ada juga yang menggolongkan harta perdagangan sebagai harta dzahir, karena bisa diketahui orang lain. Ini merupakan pendapat Abul Faraj asy-Syirazi, sebagaimana keterangan dalam al-Inshaf. (al-Inshaf, 6/342)

[baca lanjutan]

Inilah Ramadhan

Sajian Terbaik Selalu Dipersembahkan pada Ramadhan - inilah ramadhan
Sajian Terbaik Selalu Dipersembahkan pada Ramadhan
7 bulan
Warna Hijau Cerah Cocok Buat Hunian Saat Lebaran - inilah ramadhan
Warna Hijau Cerah Cocok Buat Hunian Saat Lebaran
6 bulan
Beragam Kegiatan Ramadan Juga Disajikan di Mall - inilah ramadhan
Beragam Kegiatan Ramadan Juga Disajikan di Mall
6 bulan
Nyaman Berbusana saat Hari Raya Idul Fitri - inilah ramadhan
Nyaman Berbusana saat Hari Raya Idul Fitri
7 bulan
Puncak Arus Mudik Motor Diperkirakan 2 Juni - inilah ramadhan
Puncak Arus Mudik Motor Diperkirakan 2 Juni
6 bulan
Berbagi dari Hati di Bulan Suci - inilah ramadhan
Berbagi dari Hati di Bulan Suci
6 bulan
Ahli Puasa, Makamnya Saja Dijaga Malaikat - inilah ramadhan
Ahli Puasa, Makamnya Saja Dijaga Malaikat
6 bulan
Budi Ingatkan Maskapai Murahkan Tiket Pesawat - inilah ramadhan
Budi Ingatkan Maskapai Murahkan Tiket Pesawat
6 bulan
Ini Bisa Jadi Andalan Saat Berbuka - inilah ramadhan
Ini Bisa Jadi Andalan Saat Berbuka
6 bulan

Harta Dzahir & Harta Bathin, Apa Itu?

Selasa, 21 Mei 2019
Harta Dzahir & Harta Bathin, Apa Itu? - inilah ramadhan

ISTILAH harta dzahir dan harta bathin tidak kita jumpai dalam dalil al-Quran dan sunah. Tidak pula dalam penjelasan para sahabat. Hanya saja para ulama sepakat mengenai pembagian ini. (Penjelasan dalam keputusan Baituz Zakat, untuk pertemuan ke-5, hlm. 505). Kita bisa jumpai penggunaan istilah ini dalam buku-buku para ulama fikih. Mereka membagi harta zakat menjadi 2, harta dzahir dan harta bathin.

Kita simak penjelasan al-Qadhi Abu Yala ulama Hambali ,

Al-Qodhi Abu Yala menjelaskan pembagian harta dzahir dan bathin itu dan beliau juga sebutkan contohnya,

: . : : .: :

Harta yang dizakati ada 2 bentuk: dzahir dan bathin. Harta dzahir adalah harta yang tidak mungkin disembunyikan, seperti hasil tanaman, buah-buahan, dan binatang ternak. Dan harta bathin adalah harta yang mungkin untuk disembunyikan, seperti emas, perak dan harta perdagangan.

Kemudian al-Qadhi menjelaskan pembagian ini kaitannya dengan tugas amil,



Amil zakat tidak memiliki wewenang untuk menaksir zakat harta bathin. Pemiliknya yang paling berhak untuk menunaikan zakat harta bathin, kecuali jika dia serahkan harta itu atas kerelaannya, lalu amil menerimanya dari mereka, sehingga status amil membagikan zakat hanya membantu mereka. Amil hanya berwenang menaksir harta dzahir. Dia boleh perintahkan pemilik harta untuk menyerahkan zakat hartanya kepadanya ketika amil minta. Jika tidak diminta amil, muzakki boleh menyerahkannya ke amil. (al-Ahkam as-Sulthaniyah, hlm. 180)

Penjelasan lain disampaikan oleh an-Nawawi ulama Syafiiyah dalam Ianatut Thalibin,



Amil dilarang untuk meng-audit harta bathin, yaitu mata uang dan barang dagangan, bukan harta dzahir, seperti hewan ternak, hasil pertanian dan buah-buahan. (Ianatut Thalibin, 2/175).

Juga disampaikan al-Kasani ulama Hanafi dalam kitabnya, BadaI as-ShanaI,



Harta zakat ada 2, harta dzahir seperti hewan ternak dan harta yang dilaporkan pedagang kepada petugas penarik pajak. Dan harta bathin, seperti emas, perak, dan harta perdagangan yang tidak nampak di tempat perdagangnya. (Badai as-Shanai, 2/35).

Syaikh Abu Zahrah ulama kontemporer menjelaskan,



Harta yang dikumpulkan Utsman radhiyallahu anhu diantaranya harta zakat. Dan ada yang disebut harta dzahir dan ada harta bathin (at-Taujih at-Tasyrii, Muhammad Baithar, 2/149).

Dan dari batasan yang disampaikan para ulama di atas, kita bisa simpulkan bahwa inti dari harta dzahir adalah harta yang tidak mungkin bisa disembunyikan, sehingga bisa diketahui orang lain. Mengenai rinciannya, mereka berbeda-beda dalam menyebutkannya.

Pertanyaannya, apakah harta perdagangan termasuk?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Beberapa keterangan di atas memasukkan harta perdagangan bagian dari harta bathin. Karena tidak diketahui orang lain. Dan itulah pendapat jumhur ulama. Meskipun ada juga yang menggolongkan harta perdagangan sebagai harta dzahir, karena bisa diketahui orang lain. Ini merupakan pendapat Abul Faraj asy-Syirazi, sebagaimana keterangan dalam al-Inshaf. (al-Inshaf, 6/342)

[baca lanjutan]