Kewajiban Zakat Dipengaruhi Utang Kita?

Selasa, 21 Mei 2019
Kewajiban Zakat Dipengaruhi Utang Kita? - inilah ramadhan

KITA akan melihat perbedaan pendapat ulama, apakah utang bisa mengurangi harta yang dizakati ataukah tidak?

Pendapat pertama, Utang mengurangi harta yang dizakati secara mutlak, baik untuk harta bathin, seperti emas, perak, tabungan, atau uang, maupun untuk harta dzahir, seperti binatang ternak atau hasil pertanian. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat.

Sehingga jika si A memiliki uang 100jt, namun dia memiliki utang 70jt, maka si A tidak wajib zakat, karena total hartanya setelah dikurangi nilai utang, di bawah satu nishab. Meskipun utang itu belum dia bayarkan, ketika si A menyerahkan zakat.

Pendapat kedua, Utang mengurangi harta yang dizakati untuk harta bathin, namun tidak mengurangi untuk harta dzahir. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad juga dalam salah satu riwayat yang lain. (al-Mughni, 4/263-266).

Pendapat ketiga, Utang tidak mengurangi harta yang dizakati, baik untuk harta bathin, maupun harta dzahir. Selama harta itu sudah di atas nishab dan bertahan selama setahun, tetap wajib dizakati, meskipun nilai utangnya menghabiskan semua harta. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, diantaranya: Rabiah ar-Rayi (guru Imam Malik), Hammad bin Abi Sulaiman, Imam as-Syafii dalam qoul jadid (pendapat baru) dan pendapat Ahmad dalam riwayat yang lain. (al-Mughni, 4/263 265).

Dalam al-Inshaf, al-Mardawi mengatakan,

" ".

Tidak ada zakat untuk harta milik orang yang memiliki utang yang nilainya mengurangi nishab. Inilah pendapat madzhab hambali, kecuali komoditas tertentu. Dan ini pendapat mayoritas hambali. Dan dari Imam Ahmad dalam salah satu riwayat utang itu tidak menghalangi zakat secara mutlak. (al-Inshaf, 3/20)

Dan pendapat yang paling mendekati adalah pendapat ketiga, bahwa utang tidak menjadi penghalang zakat, selama utang itu masih ditahan. Ketika Khalifah Utsman hendak menarik zakat di bulan tertentu, beliau mengingatkan,



Ini adalah bulan zakat kalian. Siapa yang memiliki utang, hendaknya segera dia lunasi utangnya, sehingga ketahuan berapa sisa hartanya. Lalu tunaikan zakat untuk harta sisanya. (HR. Malik dalam al-Muwatha, 322).

Atsar ini menunjukkan bahwa:

A. Jika utang itu belum dibayarkan, maka dihitung sebagai harta yang wajib dizakati.

B. Jika utang itu dibayar dan masih ada sisa yang melebihi satu nishab, maka harta sisa ini yang dizakati.

C. Jika utang itu dibayar dan tidak ada sisa yang melebihi satu nishab, maka tidak ada kewajiban zakat.

Contoh yang paling banyak terjadi di zaman kita adalah kasus KPR. Ada orang memiliki tanggungan KPR 200jt, dan memiliki uang tunai + tabungan totalnya 100jt.

Apakah orang ini wajib zakat?

Jika melihat total tabungannya (Rp 100jt), dia wajib zakat. Dan jika dipotong tanggungan KPR, minus 100jt. Namun mengingat tanggungan KPR ini tidak segera ditutupi, maka tidak diperhitungkan. Sehingga orang ini tetap berkewajiban zakat sebesar 2,5% x 100jt = 2,5 juta.

Demikian,Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

Inilah Ramadhan

Kondisi Ruas Tol Terus Dipantau Rutin Jelang Mudik - inilah ramadhan
Kondisi Ruas Tol Terus Dipantau Rutin Jelang Mudik
6 bulan
Sebelum Salat Id, Rasulullah Sarapan Ini Dulu - inilah ramadhan
Sebelum Salat Id, Rasulullah Sarapan Ini Dulu
5 bulan
Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal Tanggal 5 Juni 2019 - inilah ramadhan
Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal Tanggal 5 Juni 2019
5 bulan
Salat Witir, Sunah yang Sangat Ditekankan - inilah ramadhan
Salat Witir, Sunah yang Sangat Ditekankan
5 bulan
Perintah Puasa Sudah ada Sejak Zaman Nabi Adam - inilah ramadhan
Perintah Puasa Sudah ada Sejak Zaman Nabi Adam
6 bulan
Tukar Uang Lebaran, Bank Mandiri Siapkan 77 Titik - inilah ramadhan
Tukar Uang Lebaran, Bank Mandiri Siapkan 77 Titik
5 bulan
Jalan Nasional Sumsel Siap untuk Mudik - inilah ramadhan
Jalan Nasional Sumsel Siap untuk Mudik
5 bulan
Ini Prediksi Arus Mudik di Pelabuhan Merak Banten - inilah ramadhan
Ini Prediksi Arus Mudik di Pelabuhan Merak Banten
5 bulan
43 Pasar di DKI Rerus Digelar Operasi Pasar - inilah ramadhan
43 Pasar di DKI Rerus Digelar Operasi Pasar
6 bulan

Kewajiban Zakat Dipengaruhi Utang Kita?

Selasa, 21 Mei 2019
Kewajiban Zakat Dipengaruhi Utang Kita? - inilah ramadhan

KITA akan melihat perbedaan pendapat ulama, apakah utang bisa mengurangi harta yang dizakati ataukah tidak?

Pendapat pertama, Utang mengurangi harta yang dizakati secara mutlak, baik untuk harta bathin, seperti emas, perak, tabungan, atau uang, maupun untuk harta dzahir, seperti binatang ternak atau hasil pertanian. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat.

Sehingga jika si A memiliki uang 100jt, namun dia memiliki utang 70jt, maka si A tidak wajib zakat, karena total hartanya setelah dikurangi nilai utang, di bawah satu nishab. Meskipun utang itu belum dia bayarkan, ketika si A menyerahkan zakat.

Pendapat kedua, Utang mengurangi harta yang dizakati untuk harta bathin, namun tidak mengurangi untuk harta dzahir. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad juga dalam salah satu riwayat yang lain. (al-Mughni, 4/263-266).

Pendapat ketiga, Utang tidak mengurangi harta yang dizakati, baik untuk harta bathin, maupun harta dzahir. Selama harta itu sudah di atas nishab dan bertahan selama setahun, tetap wajib dizakati, meskipun nilai utangnya menghabiskan semua harta. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, diantaranya: Rabiah ar-Rayi (guru Imam Malik), Hammad bin Abi Sulaiman, Imam as-Syafii dalam qoul jadid (pendapat baru) dan pendapat Ahmad dalam riwayat yang lain. (al-Mughni, 4/263 265).

Dalam al-Inshaf, al-Mardawi mengatakan,

" ".

Tidak ada zakat untuk harta milik orang yang memiliki utang yang nilainya mengurangi nishab. Inilah pendapat madzhab hambali, kecuali komoditas tertentu. Dan ini pendapat mayoritas hambali. Dan dari Imam Ahmad dalam salah satu riwayat utang itu tidak menghalangi zakat secara mutlak. (al-Inshaf, 3/20)

Dan pendapat yang paling mendekati adalah pendapat ketiga, bahwa utang tidak menjadi penghalang zakat, selama utang itu masih ditahan. Ketika Khalifah Utsman hendak menarik zakat di bulan tertentu, beliau mengingatkan,



Ini adalah bulan zakat kalian. Siapa yang memiliki utang, hendaknya segera dia lunasi utangnya, sehingga ketahuan berapa sisa hartanya. Lalu tunaikan zakat untuk harta sisanya. (HR. Malik dalam al-Muwatha, 322).

Atsar ini menunjukkan bahwa:

A. Jika utang itu belum dibayarkan, maka dihitung sebagai harta yang wajib dizakati.

B. Jika utang itu dibayar dan masih ada sisa yang melebihi satu nishab, maka harta sisa ini yang dizakati.

C. Jika utang itu dibayar dan tidak ada sisa yang melebihi satu nishab, maka tidak ada kewajiban zakat.

Contoh yang paling banyak terjadi di zaman kita adalah kasus KPR. Ada orang memiliki tanggungan KPR 200jt, dan memiliki uang tunai + tabungan totalnya 100jt.

Apakah orang ini wajib zakat?

Jika melihat total tabungannya (Rp 100jt), dia wajib zakat. Dan jika dipotong tanggungan KPR, minus 100jt. Namun mengingat tanggungan KPR ini tidak segera ditutupi, maka tidak diperhitungkan. Sehingga orang ini tetap berkewajiban zakat sebesar 2,5% x 100jt = 2,5 juta.

Demikian,Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]