Salat Witir Satu Rakaat saja, Bolehkah?

Rabu, 15 Mei 2019
Salat Witir Satu Rakaat saja, Bolehkah? - inilah ramadhan

WITIR (), bermakna ganjil. Salat witir adalah salat yang dilakukan di malam hari sebagai penutup salat-salat sebelumnya, dikerjakan dengan jumlah rakaat ganjil.

Waktu salat witir, dimulai setelah salat Isya, sampai tiba waktu subuh, meskipun salat Isya dijamak dengan salat Maghrib (jama taqdim), salat witir boleh dikerjakan sejak saat itu.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahuanhu menceritakan sebuah nasihat berkesan yang beliau dengar Nabi Shallallahualaihi wasallam,



"Kekasihku shallallahualaihi wasallam memberiku nasihat untuk berwitir sebelum aku tidur."

Jumlah rakaat minimal salat ini adalah satu rakaat. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut,



Salat malam dikerjakan dua rakaat salam, dua rakaat salam. Jika khawatir bangun kesubuhan, maka Witirlah dengan satu rakaat, sebagai penutup salat-salat sebelumnya. (HR. Bukhori dan Muslim)

Adapun jumlah maksimum rakaat witir, tidak ada dalil yang menjelaskan batasannya. Sehingga seorang bisa melakukan sholat witir dengan rakaat berapapun asalkan ditutup dengan rakaat yang ganjil.

Dalam Fatwa Lajnah Da-imah diterangkan,

.

Jumlah minimal rakaat salat witir adalah satu rakaat. Tidak ada batasan jumlah maksimum rakaat witir. Jika berwitir dengan satu rakaat, tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas atau lebih dari itu, boleh. Dalam hal ini longgar. (Fatawa al-Lajnah ad-Da-imah 7/173)

Wallahualam bis showab.

[Ustadz Ahmad Anshori/Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Yogyakarta]

Inilah Ramadhan

Injeksi ke Bawah Otot Batalkan Puasa, Benarkah? - inilah ramadhan
Injeksi ke Bawah Otot Batalkan Puasa, Benarkah?
1 bulan
Meninggal di Bulan Ramadan - inilah ramadhan
Meninggal di Bulan Ramadan
29 hari
Sandiaga Uno Buka Puasa di Atas Pesawat - inilah ramadhan
Sandiaga Uno Buka Puasa di Atas Pesawat
1 bulan
Warna Hijau Cerah Cocok Buat Hunian Saat Lebaran - inilah ramadhan
Warna Hijau Cerah Cocok Buat Hunian Saat Lebaran
1 bulan
Hari Ini 104 Ribu Mobil Mengaspal di Tol Cipali - inilah ramadhan
Hari Ini 104 Ribu Mobil Mengaspal di Tol Cipali
20 hari
Ibadah Rasulullah di 10 Terakhir Ramadan - inilah ramadhan
Ibadah Rasulullah di 10 Terakhir Ramadan
27 hari
Enam Jurus Memuluskan Arus Balik Lebaran 2019 - inilah ramadhan
Enam Jurus Memuluskan Arus Balik Lebaran 2019
17 hari
Jaga Emosi dan Konsentrasi Saat Mudik - inilah ramadhan
Jaga Emosi dan Konsentrasi Saat Mudik
28 hari
Jalan Nasional Sumsel Siap untuk Mudik - inilah ramadhan
Jalan Nasional Sumsel Siap untuk Mudik
26 hari

Salat Witir Satu Rakaat saja, Bolehkah?

Rabu, 15 Mei 2019
Salat Witir Satu Rakaat saja, Bolehkah? - inilah ramadhan

WITIR (), bermakna ganjil. Salat witir adalah salat yang dilakukan di malam hari sebagai penutup salat-salat sebelumnya, dikerjakan dengan jumlah rakaat ganjil.

Waktu salat witir, dimulai setelah salat Isya, sampai tiba waktu subuh, meskipun salat Isya dijamak dengan salat Maghrib (jama taqdim), salat witir boleh dikerjakan sejak saat itu.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahuanhu menceritakan sebuah nasihat berkesan yang beliau dengar Nabi Shallallahualaihi wasallam,



"Kekasihku shallallahualaihi wasallam memberiku nasihat untuk berwitir sebelum aku tidur."

Jumlah rakaat minimal salat ini adalah satu rakaat. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut,



Salat malam dikerjakan dua rakaat salam, dua rakaat salam. Jika khawatir bangun kesubuhan, maka Witirlah dengan satu rakaat, sebagai penutup salat-salat sebelumnya. (HR. Bukhori dan Muslim)

Adapun jumlah maksimum rakaat witir, tidak ada dalil yang menjelaskan batasannya. Sehingga seorang bisa melakukan sholat witir dengan rakaat berapapun asalkan ditutup dengan rakaat yang ganjil.

Dalam Fatwa Lajnah Da-imah diterangkan,

.

Jumlah minimal rakaat salat witir adalah satu rakaat. Tidak ada batasan jumlah maksimum rakaat witir. Jika berwitir dengan satu rakaat, tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas atau lebih dari itu, boleh. Dalam hal ini longgar. (Fatawa al-Lajnah ad-Da-imah 7/173)

Wallahualam bis showab.

[Ustadz Ahmad Anshori/Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Yogyakarta]