Suci dari Hadats Bukan Syarat Sah Puasa

Selasa, 29 Mei 2018
Suci dari Hadats Bukan Syarat Sah Puasa - inilah ramadhan

KETIKA orang junub di malam hari ramadan, baik karena mimpi basah maupun karena hubungan badan, atau karena onani, kemudian belum mandi hingga masuk subuh, apakah puasanya sah. Kasus yang sering terjadi, mereka junub di malam hari dan ketiduran, kemudian bangun sudah masuk subuh.

Karena ketidaktahuannya, ada sebagian orang yang enggan puasa karena belum mandi junub ketika masuk subuh. Yang lebih parah lagi, ada yang tidak salat subuh karena melanjutkan tidur hingga pagi hari.

Padahal semua tindakan ini, meninggalkan salat atau tidak puasa tanpa alasan, adalah dosa sangat besar. Sementara, belum mandi ketika masuk waktu subuh, BUKAN alasan yang membolehkan seseorang meninggalkan puasa. Dan meninggalkan puasa tanpa asalan yang benar mendapatkan acaman sangat keras.

Bukanlah syarat sah berpuasa, seseorang harus suci dari hadats besar atau kecil. Ini berbeda dengan salat atau thawaf di kabah. Orang yang hendak salat atau thawaf, harus suci dari hadats besar maupun kecil. Dan jika terjadi hadats di tengah-tengah salat maka salatnya batal.

Lain halnya dengan puasa, suci dari hadats bukanlah syarat sah puasa. Tidak bisa kita bayangkan andaikan puasa harus suci hadi hadats, tentu semua orang yang puasa akan sangat kerepotan. Karena mereka tidak boleh kentut atau buang air selama berpuasa.

Oleh karena itu, orang yang junub dan belum mandi hingga subuh, tidak perlu khawatir, karena semacam ini tidaklah mempengaruhi puasanya. Dalil pokok masalah ini adalah hadis dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu anhuma; mereka menceritakan,

"Nabi shallallahu alaihi wa sallam memasuki waktu subuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian, beliau mandi dan berpuasa." (HR. Bukhari 1926 dan Turmudzi 779).

At-Tumudzi setelah menyebutkan hadis ini, beliau mengatakan,

Inilah yang dipahami oleh mayoritas ulama di kalangan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan yang lainnya. Dan ini merupakan pendapat Sufyan At-Tsauri, As-Syafii, Ahmad, dan Ishaq bin Rahuyah. (Sunan At-Turmudzi, 3/140).

Demikian, semoga bermanfaat. Allahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]

Inilah Ramadhan

Jemaah Naqsabandiyah Sumut Gelar Salat Ied Besok - inilah ramadhan
Jemaah Naqsabandiyah Sumut Gelar Salat Ied Besok
5 bulan
Tiket Mudik dan Balik Lebaran 2019 Terjual 57% - inilah ramadhan
Tiket Mudik dan Balik Lebaran 2019 Terjual 57%
5 bulan
Enam Jurus Memuluskan Arus Balik Lebaran 2019 - inilah ramadhan
Enam Jurus Memuluskan Arus Balik Lebaran 2019
5 bulan
Prabowo Direncanakan Salat Ied di Hambalang - inilah ramadhan
Prabowo Direncanakan Salat Ied di Hambalang
5 bulan
Bolehkah Puasa Syawalan Sebelum Qadha Puasa Wajib? - inilah ramadhan
Bolehkah Puasa Syawalan Sebelum Qadha Puasa Wajib?
5 bulan
26.842 Pemudik Berangkat dari Stasiun Senen - inilah ramadhan
26.842 Pemudik Berangkat dari Stasiun Senen
5 bulan
Mengapa Berbuka Dianjurkan dengan yang Manis? - inilah ramadhan
Mengapa Berbuka Dianjurkan dengan yang Manis?
6 bulan
Ruas Jalan di Sumbar Bisa Dilewati Pemudik H-2 - inilah ramadhan
Ruas Jalan di Sumbar Bisa Dilewati Pemudik H-2
5 bulan
Tarif Tol Diskon Hingga 15% Selama Mudik 2019 - inilah ramadhan
Tarif Tol Diskon Hingga 15% Selama Mudik 2019
5 bulan

Suci dari Hadats Bukan Syarat Sah Puasa

Selasa, 29 Mei 2018
Suci dari Hadats Bukan Syarat Sah Puasa - inilah ramadhan

KETIKA orang junub di malam hari ramadan, baik karena mimpi basah maupun karena hubungan badan, atau karena onani, kemudian belum mandi hingga masuk subuh, apakah puasanya sah. Kasus yang sering terjadi, mereka junub di malam hari dan ketiduran, kemudian bangun sudah masuk subuh.

Karena ketidaktahuannya, ada sebagian orang yang enggan puasa karena belum mandi junub ketika masuk subuh. Yang lebih parah lagi, ada yang tidak salat subuh karena melanjutkan tidur hingga pagi hari.

Padahal semua tindakan ini, meninggalkan salat atau tidak puasa tanpa alasan, adalah dosa sangat besar. Sementara, belum mandi ketika masuk waktu subuh, BUKAN alasan yang membolehkan seseorang meninggalkan puasa. Dan meninggalkan puasa tanpa asalan yang benar mendapatkan acaman sangat keras.

Bukanlah syarat sah berpuasa, seseorang harus suci dari hadats besar atau kecil. Ini berbeda dengan salat atau thawaf di kabah. Orang yang hendak salat atau thawaf, harus suci dari hadats besar maupun kecil. Dan jika terjadi hadats di tengah-tengah salat maka salatnya batal.

Lain halnya dengan puasa, suci dari hadats bukanlah syarat sah puasa. Tidak bisa kita bayangkan andaikan puasa harus suci hadi hadats, tentu semua orang yang puasa akan sangat kerepotan. Karena mereka tidak boleh kentut atau buang air selama berpuasa.

Oleh karena itu, orang yang junub dan belum mandi hingga subuh, tidak perlu khawatir, karena semacam ini tidaklah mempengaruhi puasanya. Dalil pokok masalah ini adalah hadis dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu anhuma; mereka menceritakan,

"Nabi shallallahu alaihi wa sallam memasuki waktu subuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian, beliau mandi dan berpuasa." (HR. Bukhari 1926 dan Turmudzi 779).

At-Tumudzi setelah menyebutkan hadis ini, beliau mengatakan,

Inilah yang dipahami oleh mayoritas ulama di kalangan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan yang lainnya. Dan ini merupakan pendapat Sufyan At-Tsauri, As-Syafii, Ahmad, dan Ishaq bin Rahuyah. (Sunan At-Turmudzi, 3/140).

Demikian, semoga bermanfaat. Allahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]