2 Kesalahan Jika Lakukan Maksiat di Bulan Ramadan

Kamis, 24 Mei 2018
2 Kesalahan Jika Lakukan Maksiat di Bulan Ramadan - inilah ramadhan

AL-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syariyah menuliskan, Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia. Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah,

Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut. (al-Adab as-Syariyah, 3/430).

Ada banyak dalil yang mendukung kaidah ini. Diantaranya, firman Allah, "Siapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih." (QS. al-Hajj: 25)

Kita bisa perhatikan, baru sebatas keinginan untuk melakukan tindakan dzalim di tanah Haram Mekah, Allah beri ancaman dengan siksa yang menyakitkan. Sekalipun jika itu dilakukan di luar tanah haram, tidak akan diberi hukuman sampai terjadi kedzaliman itu.

Alasannya, karena orang ini melakukan kedzaliman di tanah haram, berarti bermaksiat di tempat yang mulia. Yang dijaga kehormatannya oleh syariat. (Tafsir as-Sadi, hlm. 535).

Demikian pula, ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan kota Madinah. Beliau mengatakan, "Madinah adalah tanah haram, dengan batas antara bukit Ir sampai bukit itu. Siapa yang berbuat kriminal di sana atau melindungi pelaku kriminal, maka dia akan mendapat laknat Allah, para Malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima amal sunah maupun amal wajibnya." (HR. Ahmad 1049 dan Bukhari 1870)

Beliau memberikan ancaman sangat keras, karena maksiat ini dilakukan di tanah haram, yang dimuliakan oleh syariat. Kita kembali kepada dosa di bulan ramadhan. Mengapa dosanya lebih besar? Orang yang melakukan maksiat di bulan ramadhan, dia melakukan dua kesalahan,

Pertama, melanggar larangan Allah. Kedua, menodai kehormatan ramadhan dengan maksiat yang dia kerjakan. Ini memberikan kita pelajaran agar semakin waspada dengan yang namanya maksiat di bulan ramadhan. Di samping maksiat itu akan merusak puasa yang kita kerjakan, sehingga menjadi amal yang tidak bermutu.

Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

Inilah Ramadhan

Hati-hati Bila Shalat Tarawih Bacaan Cepat - inilah ramadhan
Hati-hati Bila Shalat Tarawih Bacaan Cepat
1 bulan
Prabowo Direncanakan Salat Ied di Hambalang - inilah ramadhan
Prabowo Direncanakan Salat Ied di Hambalang
20 hari
Injeksi ke Bawah Otot Batalkan Puasa, Benarkah? - inilah ramadhan
Injeksi ke Bawah Otot Batalkan Puasa, Benarkah?
1 bulan
Mudik Bareng BNI Berangkatkan 2.000 Peserta - inilah ramadhan
Mudik Bareng BNI Berangkatkan 2.000 Peserta
21 hari
Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal Tanggal 5 Juni 2019 - inilah ramadhan
Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal Tanggal 5 Juni 2019
20 hari
H+1 Lebaran, Tol Cikampek Padat Sejak Dini Hari - inilah ramadhan
H+1 Lebaran, Tol Cikampek Padat Sejak Dini Hari
15 hari
Ini Cara Lakukan Salat Malam setelah Tarawih! - inilah ramadhan
Ini Cara Lakukan Salat Malam setelah Tarawih!
1 bulan
Anies Memaknai Puasa dengan Ingat Perjuangan Ibu - inilah ramadhan
Anies Memaknai Puasa dengan Ingat Perjuangan Ibu
1 bulan
Perintah Puasa Sudah ada Sejak Zaman Nabi Adam - inilah ramadhan
Perintah Puasa Sudah ada Sejak Zaman Nabi Adam
2 bulan

2 Kesalahan Jika Lakukan Maksiat di Bulan Ramadan

Kamis, 24 Mei 2018
2 Kesalahan Jika Lakukan Maksiat di Bulan Ramadan - inilah ramadhan

AL-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syariyah menuliskan, Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia. Selanjutnya, Ibnu Muflih menyebutkan keterangan gurunya, Taqiyuddin Ibnu Taimiyah,

Syaikh Taqiyuddin mengatakan, maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumnya dilipatkan, sesuai tingkatan kemuliaan waktu dan tempat tersebut. (al-Adab as-Syariyah, 3/430).

Ada banyak dalil yang mendukung kaidah ini. Diantaranya, firman Allah, "Siapa yang bermaksud di dalamnya (kota Mekah) untuk melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih." (QS. al-Hajj: 25)

Kita bisa perhatikan, baru sebatas keinginan untuk melakukan tindakan dzalim di tanah Haram Mekah, Allah beri ancaman dengan siksa yang menyakitkan. Sekalipun jika itu dilakukan di luar tanah haram, tidak akan diberi hukuman sampai terjadi kedzaliman itu.

Alasannya, karena orang ini melakukan kedzaliman di tanah haram, berarti bermaksiat di tempat yang mulia. Yang dijaga kehormatannya oleh syariat. (Tafsir as-Sadi, hlm. 535).

Demikian pula, ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan kota Madinah. Beliau mengatakan, "Madinah adalah tanah haram, dengan batas antara bukit Ir sampai bukit itu. Siapa yang berbuat kriminal di sana atau melindungi pelaku kriminal, maka dia akan mendapat laknat Allah, para Malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima amal sunah maupun amal wajibnya." (HR. Ahmad 1049 dan Bukhari 1870)

Beliau memberikan ancaman sangat keras, karena maksiat ini dilakukan di tanah haram, yang dimuliakan oleh syariat. Kita kembali kepada dosa di bulan ramadhan. Mengapa dosanya lebih besar? Orang yang melakukan maksiat di bulan ramadhan, dia melakukan dua kesalahan,

Pertama, melanggar larangan Allah. Kedua, menodai kehormatan ramadhan dengan maksiat yang dia kerjakan. Ini memberikan kita pelajaran agar semakin waspada dengan yang namanya maksiat di bulan ramadhan. Di samping maksiat itu akan merusak puasa yang kita kerjakan, sehingga menjadi amal yang tidak bermutu.

Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]