Inilahcom Ramadhan

Jadwal Imsakiyah 1438 H

Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya
  • Imsak
    00:00
  • Shubuh
    00:00
  • Dzuhur
    00:00
  • Ashr
    00:00
  • Maghrib
    00:00
  • Isya
    00:00

Ketika Para Ulama Hataman Quran di Bulan Ramadan

Selasa, 6 Juni 2017 07:00 WIB
Ketika Para Ulama Hataman Quran di Bulan Ramadan #Kurma
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

DISUNAHKAN untuk memperbanyak membaca Alquran di bulan Ramadan dan bersemangat untuk mengkhatamkannya. Walaupun hal ini tidaklah wajib. Artinya, jika tidak mengkhatamkan Alquran, maka tidak berdosa. Namun sayang, saat itu ia akan luput dari pahala yang besar.

Apa dalil kita mesti perhatian pada Alquran di bulan Ramadan? Lihatlah Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam berusaha untuk mengkhatamkan Alquran di hadapan Jibril alaihis salam sebanyak sekali setiap tahunnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata,

"Jibril itu (saling) belajar Alquran dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa pula beritikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beritikaf selama dua puluh hari." (HR. Bukhari no. 4998).

Ibnul Atsir menyatakan dalam Al-Jami fii Gharib Al-Hadits (4: 64) bahwa Jibril saling mengajarkan seluruh Alquran yang telah diturunkan dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dari situ, para ulamasemoga Allah merahmati mereka- begitu semangat mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadan karena mencontoh Nabi shallallahu alaihi wa salam.

Beberapa contoh disebutkan di bawah ini.

Contoh pertama dari seorang ulama yang bernama Al-Aswad bin Yazid rahimahullah seorang ulama besar tabiin yang meninggal dunia tahun 74 atau 75 Hijriyah di Kufah- bisa mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakhai, ia berkata,

"Al-Aswad biasa mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadan setiap dua malam." (Siyar Alam An-Nubala, 4: 51). Subhanallah Yang ada, kita hanya jadi orang yang lalai dari Alquran di bulan Ramadan.

Disebutkan dalam kitab yang sama, di luar bulan Ramadan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Alquran dalam enam malam. Dan patut diketahui bahwa ternyata waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar Alam An-Nubala, 4: 51)

Contoh kedua dari seorang ulama di kalangan tabiin yang bernama Qatadah bin Daamah rahimahullah yang meninggal dunia tahun 60 atau 61 Hijriyah. Beliau adalah salah seorang murid dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Beliau ini disanjung oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah.

Salam bin Abu Muthi pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Alquran,

"Qatadah biasanya mengkhatamkan Alquran dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadan, ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Bahkan ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, ia mengkhatamkannya setiap malam." (Siyar Alam An-Nubala, 5: 276)

Contoh ketiga adalah dari Muhammad bin Idris Asy-Syafii rahimahullah yang kita kenal dengan Imam SyafiI, salah satu ulama mazhab terkemuka. Disebutkan oleh muridnya, Ar-Rabi bin Sulaiman,

"Imam Syafii biasa mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadan sebanyak 60 kali." Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar Alam An-Nubala, 10: 36). Bayangkan, Imam Syafii berarti mengkhatamkan Alquran dalam sehari sebanyak dua kali. Subhanallah

Contoh terakhir adalah dari Ibnu Asakir yang merupakan ulama pakar hadis dari negeri Syam, yang terkenal dengan karyanya Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya,

"Ibnu Asakir adalah orang yang biasa merutinkan salat jemaah dan tilawah Alquran. Beliau biasa mengkhatamkan Alquran setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadan, beliau mengkhatamkan Alquran setiap hari. Beliau biasa beritikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berzikir." (Siyar Alam An-Nubala, 20: 562)

Apakah Mengkhatamkan Alquran itu Wajib?

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan bahwa seperti itu berbeda tergantung pada kemampuan orang masing-masing. Orang yang sibuk pikirannya, ia tetap berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuan pemahamannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu atau sibuk mengurus urusan agama atau urusan khalayak ramai, berusahalah untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi (yang tidak penuh kesibukan), hendaknya bisa memperbanyak membaca Alquran. Jangan sampai menjadi orang yang lalai. Lihat At-Tibyan, hlm. 72.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya, "Apakah orang yang berpuasa wajib mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadan?"

Jawab beliau rahimahullah bahwa mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadan bagi orang yang berpuasa tidaklah wajib. Akan tetapi sudah sepatutnya setiap muslim di bulan Ramadan untuk memperbanyak membaca Alquran. Hal ini merupakan sunah dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Setiap bulan Ramadan, Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa saling mengkaji Alquran bersama Jibril. (Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin 20: 516, Dinukil dari Fatawa Al-Islam Sual wa Jawab no. 65754)

Padahal ada hadis yang melarang mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma, ia berkata,

"Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Alquran. Beliau menjawab, "Dalam satu bulan." Abdullah menjawab, "Aku masih lebih kuat dari itu." Lantas hal itu dikurangi hingga Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan, "Khatamkanlah dalam waktu seminggu." Abdullah masih menjawab, "Aku masih lebih kuat dari itu." Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas bersabda, "Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari." (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2: 195. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Al-Azhim Abadi rahimahullah menyatakan bahwa hadis di atas adalah dalil tegas yang menyatakan bahwa tidak boleh mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari. (Aun Al-Mabud, 4: 212)

Para ulama menjelaskan bahwa yang ternafikan dalam hadits adalah ketidakpahaman, bukan pahalanya. Artinya, hadis tersebut tidaklah menunjukkan tidak boleh mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari. Yang dimaksudkan dalam hadis adalah jika mengkhatamkan kurang dari tiga hari sulit untuk memahami. Berarti kalau dilakukan oleh orang yang memahami Alquran seperti contoh para ulama yang disebutkan di atas, maka tidaklah masalah.

Dalam Lathaif Al-Maarif (hlm. 306) disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali, "Larangan mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari itu ada jika dilakukan terus menerus. Sedangkan jika sesekali dilakukan apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadan, lebih-lebih lagi pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Mekkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Mekkah, maka disunahkan untuk memperbanyak tilawah untuk mendapatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman yang istimewa. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan." [M Abduh Tuasikal]