Jumat, 18 April 2014 | 15:45 WIB
Follow Us: Facebook twitter

Konsep open kitchen kini tengah dilirik sejumlah rumah makan. Melihat bagaimana riuhnya chef dalam membuat hingga menghidangkan makanan memberi pengal

Menjaga Kesucian Pasca-Ramadhan

wordpress.com
Oleh : Ahmad Munjin
Ramadhan - Selasa, 30 Agustus 2011 | 04:45 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Selama Ramadhan, Anda melaparkan perut dari makanan dan minuman yang halal di siang hari. Relakah Anda sekarang, memenuhi perut Anda dengan makanan dan minuman yang haram?

Cendekiawan Muslim Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Meraih Cinta Ilahi menulis, pagi ini kita salat Idul Fitri lagi. Sudah kita tinggalkan bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah.

Menurutnya, Imam Ali Zainal Abidin a.s., cucu Rasulullah Saw, selalu meninggalkan bulan Ramadhan dengan penuh kesedihan. Dengan air mata yang tidak henti-hentinya membasahi wajah yang mulia, ia mengucapkan salam perpisahan pada bulan Ramadhan.

Ia berpisah dengan bulan yang telah menyertainya dalam mengabdi kepada Allah. Bulan yang menaburkan harapan hamba dari ampunan Tuhan. Bulan yang di dalamnya orang-orang saleh membersihkan hati dengan air mata taubat dan penyesalan. Bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih utama dari seribu bulan.

Seperti Imam Ali Zainal Abidin a.s., marilah pagi ini kita ucapkan salam perpisahan kepada Ramadhan, "Wahai Bulan Allah yang agung. Wahai hari raya kekasih Tuhan. Asslamu'alaika, wahai waktu-waktu yang menyertai kami dengan penuh kemuliaan.

Wahai bulan dengan jam-jam dan hari-hari kebaikan.
Assalamu'alaika, wahai bulan yang ketika harapan didekatkan dan amal dihamparkan. Salam bagimu wahai kawan, yang membuat hati menjadi lembut dan dosa berguguran. Karenamu, betapa banyak kebaikan telah dilimpahkan kepada kami."

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.

Telah kita tinggalkan bulan Ramadhan, bulan pensucian ruhani. Mulai hari ini kita semua memikul beban berat untuk mempertahankan kesucian ini.

Selama sebulan, Tuhan menyaksikan Anda bangun di waktu dini hari dan mendengarkan suara istighfar Anda. Alangkah malangnya, bila setelah hari ini Tuhan melihat Anda tidur lelap bahkan melewati waktu subuh seperti bangkai tak bergerak.

Selama sebulan, bibir Anda bergetar dengan doa, zikir dan kalimat suci Al-Qur'an. Celakalah Anda bila Anda gunakan bibir yang sama untuk menggunjing, memfitnah dan mencaci maki kaum mukmin.

Selama sebulan, Anda melaparkan perut dari makanan dan minuman yang halal di siang hari. Relakah Anda sekarang, memenuhi perut Anda dengan makanan dan minuman yang haram?

Setelah hari ini Anda akan diuji, apakah Anda termasuk orang yang mensucikan diri, berzikir, dan salat atau tetap mencintai dan mendahulukan dunia.

Apakah Anda termasuk orang yang disebut Al-Qur'an, tazakka wa dzakarasma rabbihi fashalla (Q.S. al-A'la: 14-15) atau termasuk orang yang tu'tsirunal hayatad dunya (QS al-A'la: 16).

Nabi Muhammad Saw selalu membaca surat al-A'la pda salat Id-nya. Begitu juga dengan Ali bin Abi Thalib k.w. sehingga ada orang munafik yang menuduh Ali tidak pandai membaca Al-Qur'an. Ali k.w. berkata, "Seandainya, orang tahu apa yang terdapat dalam surat al-A'la, ia akan membacanya dua puluh kali sehari."

Apa yang terdapat dalam surat Al-A'la? Mengapa orang dianjurkan membacanya? Mengapa para khatib dan imam membaca surat al-A'la dalam salat id?

Salat 'Id adalah salat yang memisahkan kita antara Ramadhan dan sesudah Ramadhan, antara hari-hari latihan kesucian dan mempertahankannya. Marilah kita perhatikan kembali surah Al-A'la.

"Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi." (Q.S. Al-A'la: 1). "Sucikan nama Tuhanmu dengan zikir, doa, istighfar, salat dan amal saleh. Sucikan Dia dengan mensucikan dirimu seperti yang kamu lakukan dalam bulan Ramadhan," imbuh Jalal.